Adabanyak penyebab banjir, dari mulai disebabkan oleh alam yaitu curah hujan yang sangat tinggi sehingga debit air melimpah yang sungai tak mampu lagi menampung. Ada pula yang disebabkan oleh ulah manusia baik secara struktur hingga perilaku enteng warga masyarakat.
Fenomenabencana banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan, dan luapan air sungai. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti pembuangan sampah di 2 saluran-saluran air yang mengakibatkan aliran sungai menjadi tersumbat oleh banyaknya sampah yang menumpuk.
Cerpen"Sampah" Gara-Gara Sampah Saat malam hari , tiba-tiba hujan mengguyur desa Suka Duka hingga pagi tiba hujanpun tak kunjung berhenti sehingga terjadilah banjir . Penduduk desa Suka Duka semua khawatir mereka segera menyelamatkan diri dan menyelamatkan barang-barang yang mereka perlukan .
Andaada disini : Beranda / Tag "cerpen tentang banjir karena sampah" Tag: cerpen tentang banjir karena sampah. Cerpen. Ukhti, Uhibbuki! admin 2 bulan yang lalu. Cerpen. Doa Bidadari. admin 5 bulan yang lalu. Cerpen. Cerpen Kehidupan Remaja di Era Globalisasi. admin 7 bulan yang lalu. Baca Selebihnya. Artikel.
Ibukenapa banyak sampah?" tanyaku "Itu karena masih ada orang yang buang sampah sembarangan. Sepertimu, kemarin ibu lihat sepulang bermain kamu buang sampah jajan kamu di jalan," jawab ibuku yang duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum dan berkata "kan cuma buang sampah satu, Bu." Boleh Baca: Cerpen Tentang Seseorang yang Hidup dari Sampah
Selainkarena adanya curah hujan yang sangat tinggi atau bahkan ekstrim, sampah adalah salah satu penyebab yang ada dan terjadi karena ulah manusia atau lebih tepatnya warga setempatnya. Sebenarnya sampah bukan hanya menyebabkan banjir, banyak sekali permasalahan lingkungan yang dapat terjadi akibat sampah. Mengapa bisa begitu?
. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Cerita tentang banjirCerita Anak Tentang BanjirBerhubung sudah selesei makan semuanya, kak bunga coba ajak kalian mengenali tentang gejala alam ya adik-adikku tercinta, salah satu gejala alam yang sering terjadi di sekitar kita adalah, mungkin ada yg tahu dari kalian? Kalau belum kak bunga bantu kenalan dengan gejala alam yg satu ini ya. Apakah itu?Adik-adikku tercinta, gejala alam itu adalah ciptaan Allah. Salah satunya adalah banjir. Kak bunga akan mengajak kalian mengenali banjir. Banjir itu biasanya terjadi karena ulah kita sebagai manusia. Adik-adikku, banjir biasanya disebabkan karena air sungai yang penuh kemudian tumpah ke daratan seperti jalanan dan rumah kita. Selain itu airnya tumpah karena banyak orang yg membuang sampah ke sungai. Menjaga lingkungan sangat lah pentingSehingga air di sungai jadi tersumbat. Gimana adik-adik sudah pada mengerti penjelasannya. Jadi kita tidak boleh buang sampah sembarangan ya adik-adik. Lingkungan harus kita jaga termasuk sungai. Sehingga kita semua terbebas dari banjir. Mungkin ada yang ditanyakan mengenai banjir adik-adik?Banyak cara yang dapat dicegah dari kebersihan lingkungan, menjaga tanam tanam an, penghijauan, menjaga sungai, dan kanal dari kebersihan, dan juga mengatisipasi cuaca hujan, juga menjaga sumabatan aliran air 1 2 Lihat Cerpen Selengkapnya
Hampir seminggu setelah hujan mengucur deras. Orang-orang mengungsi di masjid. Genangan air tak kunjung surut. Tingginya sepinggul orang dewasa. Banjir itu datang bersamaan dengan jebolnya bendungan Sungai Campoan. Tiap hari awan hitam membungkus permukaan langit, disertai gerimis tipis liris serupa helai-helai rambut. Mereka berusaha meredam cemas. Khawatir rumah yang ditinggalkan sudah diseret air bah. “Ikhlaskan kalau memang rumah harus diseret banjir.” Maksan, laki-laki berkumis tebal, menepuk pundak kawannya yang menampakkan wajah murung. “Kalau air tak kunjung surut, apa tidak mungkin masjid ini juga bisa-bisa ditenggelamkan banjir?” tanya Kasno kepada Maksan. Mereka berdua bertetangga. Tapi, pembicaraan di antara mereka terjadi setelah dua lelaki paruh baya itu sama-sama mengungsi di masjid itu. Sebelum banjir datang, Kasno dan Maksan jarang bertegur sapa, apalagi sampai mengobrol berjam-jam seperti ini. “Masjid adalah tempat paling aman. Tak mungkin banjir bisa menenggelamkan rumah ibadah ini,” kata Maksan sembari menyulut sebatang rokok. Dingin menghunus setiap inci kulit. Orang-orang mengobrol dalam masjid, mengusir rasa bosan yang mulai menghinggapi benak mereka. Berlama-lama mengungsi tentu tidak nyaman. “Mengapa bisa begitu?” Kasno mengernyitkan dahinya. Menyipit matanya. Dipandanginya wajah Maksan yang tampak biasa-biasa saja. Diembuskannya asap rokok yang melegakan pikiran rumit Maksan. “Ini tempat ibadah. Rumah Allah. Tidak mungkin Allah akan menenggelamkan rumahnya sendiri.” Maksan mengulas senyum di bibirnya. Kasno menganggukkan kepala mendengar penjelasan Maksan pada pagi lembab. “Itulah mengapa orang-orang kerap berlindung di masjid ketika banjir datang.” Kasno menambahkan dengan binar-binar di matanya, mendahului ucapan Maksan. Beberapa jenak kemudian, Kasno merogoh sebungkus rokok dalam sakunya. Tidak tahu kapan air akan surut sehingga Kasno kerap berdoa agar air itu sesegera mungkin susut, menyingkir dari rumah-rumah penduduk. Namun, air justru bertambah meskipun hujan tidak turun setiap hari lagi, sebagaimana hari-hari sebelumnya. “Mungkin kita disuruh lebih lama tinggal di masjid supaya ingat ibadah,” bicara Kasno tak lebih serupa desis. Maksan tak menanggapi gumam kawan akrab satu-satunya, yang baru ia sadari kalau laki-laki itu tetangga sebelah rumahnya. Ia menikmati isapan demi isapan asap yang keluar masuk dari dada ringkihnya yang kian menyempit. Ketika awan membiarkan celah matahari bersinar menerpa tubuh dua laki-laki di samping masjid itu, Maksan mendadak terisak. Dibuang sebatang rokok yang masih menyala. Ia menundukkan wajah. Laki-laki bertubuh agak kerempeng itu ingat akan kematian sang istri. Pagi agak lembab ketika istrinya terperosok ke lubang parit di antara genangan air yang masih selutut. Waktu itu, istri Maksan berkukuh tetap tinggal di rumah. Sebagian warga mulai mengungsi, tidak mau menanggung risiko. Khawatir luapan air Sungai Campoan disertai curah hujan yang seakan siap menuangkan air dalam jutaan meter kubik per detik membuat mereka tak sanggup menyelamatkan diri. Mastini, istri Maksan, keras kepala. Tak mau dengar omongan-omongan tetangga, termasuk ucapan suaminya yang berkali-kali membujuk perempuan 35-an itu meninggalkan rumah. “Percayalah. Tak mungkin banjir,” ujarnya lembut pada Maksan. Kata-kata itu diulang-ulang begitu Maksan melontarkan bujukan padanya. Padahal Maksan menyadari, air itu mulai bertambah setiap harinya. Maksan menatap genangan air di depan rumahnya, yang lambat laun tingginya bertambah. Kematian istrinya menjadi jawaban bagi Maksan, mengapa perempuan berkulit kuning langsat itu tak mau meninggalkan rumah. Seseorang diminta menjemput Bardi, anak Maksan, ke sekolah. Jasad Mastini dibaringkan di atas lincak. Kecipak air di bawah ranjang bergoyang-goyang, lalu mengalir pelan-pelan ke setiap sudut rumah. Tangis Bardi meledak ketika bocah tujuh tahun itu berdiri di ambang pintu, melihat ibunya dikerumuni orang-orang. Maksan ikut menitikkan air mata. Ia menarik tubuh anaknya dari dekapan sang ibu. Bergotong royong warga menggali liang kubur secepat mungkin. Dikhawatirkan air makin bertambah. Kubur digali di pemakaman keluarga, di antara air yang pelan-pelan merambat masuk ke dalam. “Setiap tahun, setiap banjir pasti ada yang meninggal,” celetuk seseorang yang ikut ke pemakaman. “Mungkin karena makin banyak gedung berdiri, makin sedikit daerah resapan air, dan sungai-sungai kian menyempit.” “Mungkin pula karena Allah sedang menguji hamba-hamba-Nya.” “Bagaimana kalau itu azab?” Pertanyaan muncul dari mulut laki-laki berkumis tipis. Orang-orang jadi terdiam. Hanya bisa memandangi raut muka laki-laki itu. Mereka menghela napas panjang, melegakan tenggorokannya sekaligus mengaburkan bayangan kengerian perihal banjir yang dibilang azab oleh laki-laki dengan tulang-belulang serupa batang lidi pada sebidang dadanya itu. Jasad Mastini dimasukkan ke dalam liang lahat. Bardi menjerit. Sesaat kemudian, ia menangis panjang dan amat menyayat. Maksan menabur bunga di atas pusara sang istri. Nisan dipegangnya erat. Tak ingin dilepas. Wajah Bardi, anak mereka, membenamkan wajahnya ke dalam dada Maksan. Tujuh menit setelah orang-orang meninggalkan pemakaman. Mereka berdua juga ikut membawa langkahnya, menerabas air yang senantiasa mengalir, dengan ketinggian setumit orang dewasa. Tak sampai tujuh hari Maksan di rumah. Ia mesti meninggalkan rumah satu-satunya itu dengan menyimpan luka di dadanya lantaran tak bisa mengadakan tahlilan selama tujuh hari bagi sang istri. Warga berbondong-bondong menuju masjid, kurang lebih lima kilometer dari rumah yang mereka tinggalkan. Maksan bersama Bardi terpiuh-piuh melangkah menuju masjid. Dikabarkan melalui siaran televisi, banjir hampir menenggelamkan separuh kota. Orang-orang tercengang sekaligus heran, mengapa masjid-masjid tak tersentuh oleh air. Pengungsian dipusatkan di masjid-masjid karena itu cuma satu-satunya tempat yang luput dari serangan banjir. Aneh, pikir orang-orang dalam tempurung kepalanya. Sementara Maksan, selalu setiap hari, lepas maghrib mengaji di dalam masjid. Mengirim doa-doa kepada sang istri, yang kini mungkin makam itu sudah dilumat oleh banjir. Kasno mengakui kesedihan kawannya itu berlipat ganda mencekik hidupnya. Kerut-kerut di kening Maksan membentuk garis terombang-ambing. Sorot matanya suram. Kasno merasa bersyukur, banjir kali ini tak merenggut seorang pun nyawa keluarganya. Meskipun begitu, ia pernah menangis untuk kematian ayahnya sewaktu banjir melanda tahun lalu. “Apakah banjir memang kerap minta tumbal?” Maksan bertanya kepada Kasno. Tersenyum Kasno mendengar Maksan mengajukan pertanyaan serupa itu. Wajar Maksan melontarkan kalimat itu karena ia kerap menjadi saksi kematian warga setiap tahun, setiap kali banjir menghajar rumah mereka. Termasuk atas kematian ayah Kasno. “Banjir datang karena manusianya sendiri yang meminta. Sungai-sungai dipersempit. Sampah dibuang di sungai. Maka, ke mana lagi air itu akan mengalir jika tempat yang semestinya diusik.” Ucapan Kasno membuat Maksan merenung. Masuk ke dalam dirinya sembari membenarkan perkataan Kasno dalam hatinya. Mendung menggantung di langit. Dua laki-laki itu masuk ke dalam masjid. Mereka ingat belum mengerjakan shalat Isya. Kamis malam kesepuluh, lepas isya Maksan dikejutkan dengan mengalirnya air ke halaman masjid. Tujuh menit berlalu, air itu kian bertambah. Semula Maksan mengira air selokan masjid sedang meluap karena hujan mengucur deras semalam. Tapi, mata laki-laki paruh baya itu dibuat terbelalak ketika dilihatnya air terus bertambah hingga mencapai undakan masjid. “Banjir …. Banjir …. Banjir datang,” teriakan Maksan dari teras masjid disambut panik oleh orang-orang yang tengah terlelap. Berbondong-bondong mereka keluar. Maksan mencari Bardi di antara kerumunan orang-orang. Bocah itu langsung mendekap ayahnya. Butuh waktu lama agar warga pengungsi segera keluar dari masjid, mencari tempat aman. “Ke mana kita harus mengungsi?” “Apa masih ada masjid yang luput dari banjir?” Kepanikan merambati sekujur tubuh orang-orang sampai mereka menangis terisak-isak. Sebagian lari terbirit-birit, sebagian lagi memilih berdiam dalam masjid, berzikir pasrah, seperti siap menerima kematian apabila Izrail memang mau mencabut nyawa di antara banjir yang lambat laun masuk ke dalam masjid itu. Tiga puluh menit kemudian, air sudah mencapai lutut orang dewasa. Tubuh orang-orang bersila di dalam masjid hampir tenggelam oleh genangan air. Maksan berpandangan bingung melihat ruang dalam masjid dipenuhi air seutuhnya. “Kenapa Allah hendak menenggelamkan sendiri rumah-Nya?” Maksan menyimpan pertanyaan itu dalam dadanya. Pasti sebab banjir dikirim ke masjid didasari suatu hal. Di antara pikiran Maksan yang tak kunjung mendapat jawaban sebab musabab banjir dikirim ke masjid, ia mendengar jeritan orang-orang beristigfar, seakan ingat segunung dosa dan ingin menebusnya ketika itu juga. “Pertanda apakah ini, Pak?” Bardi, anak lelakinya, bocah tujuh tahun itu bertanya. Maksan menggeleng. Buru-buru mereka meninggalkan masjid, menerabas air yang makin meninggi setiap menitnya. Maksan gelisah. Sepanjang perjalanan mulutnya senantiasa beristigfar dengan air mata mengucur terus-menerus. *** Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok, Batang-batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep, Madura. Cerpen dan puisinya tersiar di sejumlah media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen Wanita yang Membawa Kupu-Kupu 2008, Dari Jendela yang Terbuka 2013, Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia 2013, serta Perempuan dan Bunga-bunga 2014. I Made Somadita, lahir di Tabanan, Bali, tahun 1982. Dia menempuh pendidikan seni ISI Denpasar dan sampai kini menetap di Bali. Soma pernah diundang sebagai seniman residensi di NuArt Sculpture Park Bandung, The Netherland Amsterdam Belanda, KIAR 2014 India, CAP Studio Chiang Mai Thailand, dan Reuinon Island Perancis. Dia juga seringkali menerima pembelajar seni secara privat.
KisahWeb – Cerpen ataupun kisahan pendek mengenai sampah dapat menjadi sebuah kampanya lingkungan. Propaganda adapun menjaga kebersihan dan tidak merusak lingkungan dengan sampah adalah tugas kita bersama. Sampah masih menjadi komplikasi cak bagi negeri kita. Indonesia timbrung dalam pelecok satu negara terkotor di dunia, sungai di Indonesia bahkan menjadi wai terkotor karena sampahnya. Pelecok satu bengawan terkotor ialah Ciliwung di Jakarta. Menyelesaikan masalah sampah enggak semudah membalikan telapak tangan. Kita pula mencatat akses pembungan sampah di negeri ini yang sangat minim. Itulah permasalahan modalnya. Kesadaran masyarakat juga kecil, tetapi mereka tidak mempunyai pilihan selain membuang sampak ke sungai, pinggir urut-urutan dan sebagainya. Sebab memang bukan ada sistem pembuangan sampah nan baik. 1. Negeri Sampah Awalnya aku terkesiap setelah istriku membuang sampah di sungai pantat rumahnya. Bagaimana tega, air yang sedemikan jernihnya ditimpa sampah penyalai. “Kok dibuang ke sungai Dik” tanyaku pada istri yang baru saja kunikahi semingu lalu. “Terus dibuang kemana mas” jawabnya, menyoal balik padaku. “Ya campakkan di tempat sampah Dik” tanyaku. “Mana ada tempat sampah mas disni, kancah sampahnya ya di sungailah. Orang disni sudah terbiasa membuang sampah disungai, karena memang lain ada tempat pembuangan sampah” tuturnya. Aku pun terdiam, mencoba berbaik dengan keadaaan. Disatu sisi aku adalag aktivis lingkungan, disisi tidak istriku benar, lain cak semau akomodasi untuk membuang sampah di kampung ini. Esoknya aku coba menyisir batang air, keadaanya memprihatinkan. Sampah berserakan. Semua orang membuang apa belaka nan tak berguna ke sungai ini. Bahkan disini sempelah sekali lagi dibuang ke sungai. “Oa WC kita ini cenderung ke sungai ya” tanyaku. “Iya, jikalau dibuat gaung wc, tulat airnya bahkan timbrung ke sumur kan. Air kita makara terkontaminasi” kirana istriku. Hari cuti mulai, aku dan istriku perkembangan-jalan ke pantai. Lokasinya enggak jauh dari kondominium, sekitar 4 kilometer. Disana aku kemabli tercengang saat menyibuk onggokan sampah suka-suka di labium tepi laut. “Inilah sampah-sampah kita nan kita buang ke bengawan kemarin. Mengotori pantai yang indah, dan lain hanya pantai saja. Lautan juga pasti terkontanimasi sampah” kataku sinkron menikmati pantai sampah. Ternyata masalah ini terjadi di banyak tempat, tak saja di kampung istriku. Sampai-sampai di pulau dewata pun begini. Karut marut penyelenggaraan sampah belum bisa diatasi. Kemudian aku juga menggambar dalam perasaan. “Meski orang lempar sampah merodok, aku akan mencoba lakukan enggak. Dan aku akan taat jadi orang ideal. Sebab menjaga lingkungan ialah kebaikan” catat janjiku kerumahtanggaan lever. 2. Tangan Kita Riko yaitu anak baik, sejak SD aku sudah lalu berteman dengannya. Satu situasi yang membuatku dahulu salut adalah kebiasaanya membuang sampah pada tempatnya. Tidak sekalipun ia membuang bungkus permen merambang, ia lebih memilih mengantongi plastik ajang bungkus permen ketimbang anda buang di manasuka tempat. Saar dewasa, aku pun mengoja diri bertanya pada Riko, tentang kedisiplinannya. “Apa yang membuatmu sedisiplin ini” tanyaku pada Riko. “Allah menyibuk segala apa yang kita lakukan, sekecil apapun. Walau membuang secuil sampah, itu menhadi catatan cak bagi kita. Walau namun berusaha tak membuang secuil sampah, itu juga dinilai olehnya” jawabnya. Mendadak jawaban itu membentuk aku merinding. Tak kusangka beliau begitu menjaga tanganya dari hal buruk. Walau dari secuil sampah nan dibuang sembarangan. Baca Kembali Hukum membuang limbah di sungai Kini Riko sudah menjadi pemuda sukses, sifat disiplin membawa ia plong kehidupan kepemimpinan nan awet. Dia sudah menjadi bos salah satu lembaga non kepemerintahan NGO internasional. Sobat, itulah cerita sumir tentang sampah nan dapat menjadi pelajaran untuk kita. Mudahmudahan kita kepingin dan mampu mejaga kebersihan mileu sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan.
JAKARTA, - Sampah menjadi salah satu penyebab genangan saat hujan mengguyur wilayah DKI Jakarta Selatan sejak Jumat 17/1/2020 malam hingga Sabtu18/1/2020 pagi. "Sampah salah satunya, saat petugas melakukan pembersihan masih ditemukan banyak sampah di saluran air," kata Kepala Seksi Pemeliharaan Suku Dinas Sumber Daya Air SDA Kota Jakarta Selatan, Junjung saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu 19/1/2020.Beberapa lokasi genangan yang banyak ditemukan sampah, antara lain, kolong Jembatan Semanggi, Jalan Gatot Subroto depan Balai Kartini dan depan Dinas Pendidikan di Setiabudi. Selain sampah, genangan juga disebabkan kontur wilayah yang lebih rendah sehingga saat hujan dengan curah tinggi mudah terjadi genangan. Baca juga Cerita Ahok, Butuh 3 Tahun Sosialisasi Sebelum Relokasi Warga demi Normalisasi Sungai"Ada juga karena luapan, luapan saluran PHB penghubung, ke arah Kali Grogol, di kali ada penyempitan, jadi mudah meluap," kata Junjung. Untuk mengatasi genangan, lanjut Junjung, pasukan biru turun langsung ke lapangan membersihkan sampah-sampah, pembersihan tali dan mulut air serta mengoperasikan pompa portabel dan pompa situasional. Hujan lebat yang turun sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi menimbulkan genangan di sejumlah titik di antaranya di Jalan Gatot Subroto depan Balai Kartini, depan Dinas Pendidikan Setiabudi, Jalan Hang Lekir di Kebayoran Lama, Semanggi depan Kampus Atmajaya dan kolong Semanggi. Baca juga Ini Daftar Jalan yang Sudah Surut Setelah Banjir, Tiga Kawasan Masih Tergenang Lalu di Kemandoran Plus dan Perumahan Loka Permai, Gandaria Selatan. Genangan merendam permukaan jalan dengan ketinggian antara 15 centimeter cm hingga selutut orang dewasa. Guna mencegah genangan, Kasudin SDA Jakarta Selatan, Mustajab bersama pasukan biru melakukan kerja bakti di Kecamatan Jagakarsa, tepatnya di PHB Babakan Atas Segmen Gang Family RT 11/RW 09 Kelurahan Srengseng, Kecamatan Jagakarsa. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
cerpen tentang banjir karena sampah